Minggu, 03 Mei 2026

Cukup Menjadi Saya

Di tengah arus kehidupan yang begitu cepat, kita sering tanpa sadar terjebak dalam kebiasaan membandingkan diri. Media sosial, lingkungan sekitar, bahkan obrolan sehari-hari kerap menyajikan potongan-potongan kehidupan orang lain yang tampak lebih indah, lebih berhasil, dan lebih bahagia. Dari sana muncul pertanyaan yang pelan namun mengganggu: 

“Kenapa bukan saya?”

Padahal, setiap manusia diciptakan dengan keunikan yang tidak bisa disalin. Setiap “saya” memiliki jalan hidupnya sendiri—dengan ritme yang berbeda, ujian yang berbeda, dan tujuan yang juga berbeda. Apa yang terlihat sebagai “keterlambatan” dalam hidup kita, bisa jadi adalah bagian dari proses yang memang sedang Allah siapkan untuk menguatkan dan mematangkan diri.

Sering kali kita lupa, bahwa kebahagiaan bukanlah hasil dari menjadi orang lain. Kebahagiaan justru tumbuh ketika kita mampu menerima diri sendiri dengan utuh. Menerima kelebihan tanpa menjadi sombong, dan menerima kekurangan tanpa merasa rendah. Dari penerimaan itulah lahir ketenangan.

Menjadi diri sendiri bukan berarti berhenti berkembang. Justru sebaliknya, saat kita menerima diri, kita bisa melangkah dengan lebih jujur dan realistis. Kita tahu apa yang perlu diperbaiki, tanpa harus merasa menjadi “tidak cukup”. Kita bertumbuh bukan karena tekanan, tetapi karena kesadaran.

Dalam perspektif Islam, setiap manusia memiliki nilai di hadapan Allah bukan karena siapa ia dibandingkan orang lain, tetapi karena ketakwaannya. Maka ukuran hidup bukanlah seberapa mirip kita dengan orang lain, melainkan seberapa dekat kita kepada-Nya.

Ada kalanya langkah kita terasa kecil. Ada saatnya proses kita terasa lebih lambat dibanding orang lain. Namun selama kita terus berjalan, selama kita tetap berusaha dan bersandar kepada Allah, maka kita tidak pernah benar-benar tertinggal.

Bahagia menjadi seorang “saya” adalah tentang berdamai dengan perjalanan sendiri. Tentang memahami bahwa hidup bukan perlombaan antar manusia, melainkan perjalanan menuju ridha Allah.

Hari ini, mungkin kita tidak perlu menjadi siapa-siapa.
Cukup menjadi diri sendiri—yang terus belajar, terus memperbaiki, dan terus berharap.

Karena dari situlah, kebahagiaan yang tulus perlahan tumbuh.

Jumat, 17 April 2026

Ibu sebagai Role Model Spiritual (Dalam Perspektif Tadabbur Al-Qur’an)

Pendidikan pertama itu bukan terjadi di sekolah, tetapi di rumah. Dan yang paling dominan membentuk suasana rumah adalah ibu.

Allah berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6:

قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Menariknya, ayat ini dimulai dengan “jagalah dirimu”, sebelum “keluargamu”. Artinya, sebelum mendidik anak, seorang ibu harus lebih dulu menjaga kualitas imannya. Spiritualitas tidak bisa diwariskan jika tidak dihidupkan.


1. Pendidikan Itu Transfer Nilai, Bukan Sekadar Nasihat

Pendidikan dalam Islam bukan sekadar “ta’lim” (mengajar), tetapi juga “tarbiyah” (menumbuhkan). Dan pertumbuhan paling efektif terjadi melalui keteladanan.

Anak tidak belajar sabar dari teori sabar.
Ia belajar sabar saat melihat ibunya tetap tenang ketika diuji.

Anak tidak belajar tawakal dari definisi.
Ia belajar tawakal saat melihat ibunya tetap yakin di tengah keterbatasan.


2. Spiritualitas Dimulai dari Tauhid yang Hidup

Tauhid sangat penting sebagai pondasi karakter. Jika tauhid kuat, akhlak akan mengikuti.

Ibu sebagai role model spiritual berarti:

  • Membiasakan menyebut nama Allah dalam setiap aktivitas
  • Mengajarkan anak mengaitkan peristiwa dengan takdir Allah
  • Menjadikan doa sebagai respon pertama, bukan terakhir

Ketika ibu berkata,
“Bismillah dulu ya.”
“Alhamdulillah.”
“InsyaAllah.”

Itu bukan sekadar ucapan, tapi proses membangun kesadaran rububiyah dalam jiwa anak.


3. Ibu sebagai Penjaga Fitrah

Sering dijelaskan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Orang tua yang akan membentuk arahnya.

Di sinilah peran ibu menjadi sangat strategis. Karena waktu kebersamaan paling banyak biasanya bersama ibu, maka penguatan nilai tauhid, adab, dan cinta ibadah sangat dipengaruhi oleh suasana yang ia ciptakan.

Jika rumah dihidupkan dengan:

  • Tilawah
  • Shalat tepat waktu
  • Diskusi ringan tentang ayat
  • Kisah para nabi

Maka spiritualitas anak tumbuh alami, bukan dipaksa.


4. Kesalehan Ibu adalah Investasi Peradaban

Dalam banyak kisah Al-Qur’an, kita melihat bagaimana kualitas seorang ibu berdampak pada kualitas generasi.

Ketika seorang ibu memperbaiki hubungannya dengan Allah, sesungguhnya ia sedang menyiapkan generasi yang kokoh. Karena anak cenderung meniru, bukan hanya mendengar.

Spiritualitas ibu yang kuat akan:

  • Membuatnya sabar dalam mendidik
  • Konsisten dalam mendisiplinkan
  • Lembut dalam menasihati
  • Tegas dalam prinsip

Itulah kombinasi yang melahirkan karakter tangguh.

Perbaikan umat tidak dimulai dari panggung besar, tetapi dari rumah-rumah kecil yang dihidupkan oleh ibu-ibu yang sadar perannya.

Ibu bukan hanya pengurus rumah.
Ia adalah penjaga iman keluarga.
Ia adalah role model spiritual.

Jika ibu kuat secara ruhani, maka rumah akan kokoh.
Jika rumah kokoh, maka masyarakat akan kuat.

Dan dari situlah peradaban dimulai.

Minggu, 22 Februari 2026

Tarhib Ramadan: Menyambut Tamu Agung dengan Ilmu dan Amal

Ramadan bukan tamu biasa. Ramadan adalah bulan yang dimuliakan Allah, sehingga cara menyambutnya pun tidak boleh biasa-biasa saja. Tarhib Ramadan bukan sekadar seremoni, tetapi persiapan sadar dan terencana agar ibadah di dalamnya benar-benar bernilai.

 Allah telah mengumumkan keistimewaan Ramadan jauh sebelum ia datang:

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”

(QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini menjadi dasar bahwa Ramadan adalah momentum wahyu dan hidayah, bukan sekadar perubahan rutinitas.

 

Tarhib: Persiapan Sebelum Perintah

Dalam Al-Qur’an, setiap perintah besar selalu diawali dengan persiapan. Begitu pula puasa Ramadan. Sebelum ayat puasa disampaikan, Allah terlebih dahulu membangun kesadaran iman dan tujuan takwa (QS. Al-Baqarah: 183).

 Tarhib Ramadan berarti:

  • Menata niat
  • Meluruskan pemahaman tentang puasa
  • Menyiapkan ilmu fiqih dasar
  • Membersihkan hati dan hubungan sosial

Tanpa tarhib, Ramadan bisa berlalu tanpa makna.

 

Menyambut Ramadan dengan Ilmu

Ibadah tanpa ilmu berpotensi kehilangan nilai. Tarhib Ramadan seharusnya menjadi waktu untuk memahami:

  • Hakikat puasa
  • Hal yang membatalkan dan mengurangi pahala
  • Adab Ramadhan
  • Keutamaan malam dan doa

 Ilmu menjadikan ibadah lebih tenang, terarah, dan maksimal.

        “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan memahamkannya tentang agama.”

        (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Menata Hati Sebelum Menata Jadwal

Sering kali Ramadan disambut dengan jadwal padat: target khatam, agenda buka bersama, dan aktivitas sosial. Namun yang pertama disiapkan adalah hati.

Tarhib Ramadan mengajak:

  • Memaafkan sebelum meminta ampun
  • Membersihkan iri sebelum memperbanyak dzikir
  • Menyelesaikan konflik sebelum memperpanjang doa

 Karena hati yang bersih lebih siap menerima rahmat.

 

Ramadhan Adalah Kesempatan Naik Kelas

Ramadan adalah madrasah ruhani. Setiap mukmin datang dengan kondisi iman yang berbeda, tetapi Ramadan memberi peluang yang sama untuk naik derajat.

Tarhib Ramadan adalah kesadaran bahwa:

  • Setiap Ramadan bisa menjadi yang terakhir
  • Setiap malam bisa menjadi titik balik
  • Setiap sujud bisa mengubah arah hidup

 Maka menyambut Ramadan bukan dengan euforia, tetapi dengan kesungguhan.

Tarhib Ramadan adalah seni menyambut tamu agung dengan adab terbaik. Ia dimulai dari niat yang lurus, ilmu yang benar, dan hati yang bersih. Ramadan tidak membutuhkan kita, kitalah yang membutuhkan Ramadan.

 

Semoga Ramadan yang akan datang benar-benar menjadi bulan perubahan, bukan sekadar pengulangan.

 

 

Minggu, 18 Januari 2026

Checklist Persiapan Ramadhan

Ramadhan tidak datang untuk dilewati, tetapi untuk ditingkatkan.

Agar kualitas ibadah naik, kita perlu persiapan yang terstruktur—seperti para sahabat yang mempersiapkan Ramadhan enam bulan sebelumnya. Berikut checklist ilmiah yang bisa mulai Anda terapkan:


1. Mindset: Menata Niat & Pola Pikir

  • Tata ulang niat: Ramadhan adalah “syahrut tarbiyah”—bulan pendidikan ruhani.
  • Fokus pada pertumbuhan (Growth mindset).
    Penelitian Carol Dweck menunjukkan bahwa orang dengan growth mindset lebih mudah konsisten dan tidak cepat menyerah.
  • Tanamkan keyakinan bahwa perubahan itu bertahap, bukan instan.

    “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.”
    (HR. Bukhari)

2. Ibadah: Membentuk Pola Sebelum Masuk Ramadhan

  • Mulai dengan kebiasaan kecil: 1 halaman Qur’an/hari, 5 menit dzikir pagi-petang.
  • Riset habit James Clear: kebiasaan kecil yang dilakukan sebelum momentum besar lebih bertahan lama.
  • Siapkan menu ibadah”: tilawah, sedekah, qiyam, dan doa.

        “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu walau 
         sedikit.” (HR. Muslim)


3. Fisik: Menjaga Energi untuk Ibadah

  • Atur pola makan: kurangi gula, perbanyak air.
  • Riset Harvard menyebutkan hidrasi baik meningkatkan fokus & stabilitas emosi.
  • Kurangi begadang agar adaptasi puasa lebih mudah.
  • Mulai olahraga ringan 1020 menit/hari.

        “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah...” (HR. Muslim)


4. Rumah: Membuat Lingkungan yang Mendukung Ibadah

  • Rapikan rumah, sederhanakan barangruang rapi menenangkan otak.
    Studi Princeton University: clutter (berantakan) meningkatkan stres dan mengganggu fokus.
  • Siapkan pojok Quran untuk keluarga: mushaf, sajadah, buku doa.
  • Kurangi stimulus negatif: batasi TV, atur waktu gadget.

          Rumah yang dipenuhi zikir dan tilawah akan “menerangi” penghuninya 
          (HR. Muslim).


5. Keluarga: Menyatukan Ritme & Spirit

  • Adakan briefing Ramadhan keluarga: target bersama, jadwal berbagi tugas, adab selama puasa.
  • Diskusi ringan dengan anak-anak tentang apa itu Ramadhan dan kenapa kita gembira menyambutnya.
  • Riset Journal of Family Psychology: keluarga yang punya rutinitas spiritual bersama memiliki tingkat kebahagiaan lebih tinggi.
  • Jadikan Ramadhan sebagai bulan membersamai keluarga”—bukan hanya sibuk di dapur atau pekerjaan.

         “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” 
          (HR. Tirmidzi)


Persiapan Ramadhan bukan hanya soal ibadah ritual, tapi perbaikan sistem hidup: mindset, tubuh, lingkungan, dan keluarga.
Dengan persiapan yang ilmiah dan ruhani, Ramadhan berubah dari sekadar rutinitas menjadi momentum perubahan peradaban kecil dalam rumah kita.

 


Senin, 22 Desember 2025

Teruntuk Semua yang Bergelar Ibu, Sayangilah Dirimu.

 

Ibu..
Apa yang terlintas Ketika mendengar kata Ibu?

Bukan hanya sekedar Peran, namun Ibu adalah salah satu pondasi utama dalam keluarga. Dari Kasih sayangnya, kekuatannya, Do’a nya melahirkan keluarga Tangguh.

Ibu menjadi pusat kebahagian keluarga. Bukan hanya menjadi sosok yang melahirkan, menyusui saja, tetapi menjadi pusat emosi, kasih sayang, dan kehangatan dalam rumah. Bahkan kehadiran Ibu terkadang menjadi penentu emosi dalam keluarga.

Ketika Ibu mampu tenang dalam menghadapi setiap urusan, merespon keunikan tingkah anak-anak, ketenangan dan kelembutan Ibu akan dapat dirasakan dan dapat membentuk karakter anggota keluarga lainnya. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah Saw:

"Jika Allah swt menghendaki kebaikan bagi suatu keluarga, Dia menumbuhkan kelembutan pada diri mereka" (HR Abi ad-Dunya).

Begitu juga dalam kutipan Ki Hajar Dewantara, juga menegaskan bahwa Pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter anak,

“keluarga adalah pusat pendidikan yang pertama dan terpenting”

Namun, hal ini bukan hal yang mudah. Terkadang tuntutan multitasking pada Ibu membuat begitu banyak yang ia pikirkan: memenuhi kebutuhan keluarga, mengurus keperluan sekolah anak, memastikan makanan tersedia di meja makan, menyiapkan seragam kerja suami dan anak agar siap dipakai, bahkan juga ada yang perlu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Hal ini membuat fikiran seorang Ibu bercabang sehingga secara otomatis menuntut ibu harus bergerak dengan cepat bahkan sampai merasa kewalahan.

Terlebih kemajuan teknologi, kemudahan mengakses media sosial membuat informasi sangat mudah didapat bahkan sulit terfilter dengan baik sehingga mempengaruhi beban psikologis Ibu.

Maka…

Teruntuk semua yang bergelar Ibu, Sayangilah dirimu.

Ketika kita memahami emosi kita mempengaruhi kehangatan keluarga, kita perlu menjaga kewarasan diri kita. Saat rasa Lelah itu datang, terimalah dan berikanlah ‘Jeda’ pada diri kita. Pilih aktivitas sederhana untuk mengembalikan energi postif dan menenangkan fikiran. Ajak Pasangan untuk saling menguatkan.

Mari kita menjaga kewarasan sebagai seorang Ibu, agar kita Bahagia dalam menghadapi dunia .

 

Peluk Dirimu Hari Ini

Terima kasih ya, Bu, sudah berjuang sejauh ini. Jika hari ini terasa berat, tak apa untuk mengakui bahwa Ibu lelah. Beristirahatlah tanpa rasa bersalah. Karena saat Ibu sehat lahir dan batin, Ibu sedang membangun fondasi terkuat untuk masa depan keluarga tercinta.

Sebab rumah yang paling nyaman, adalah Ibu yang bahagia

Selamat Hari Ibu untuk semua Ibu yang Luar Biasa 😊💕

Jumat, 07 November 2025

Menikah itu Ibadah, bukan Obat dari Semua Lelah

 

Saat ini pernikahan di usia muda menjadi Salah satu Impian yang sedang tren di kalangan pemuda. Namun tidak sedikit pula sebuah pernikahan tersebut kandas diusia yang masih muda juga.

Banyak alasan yang menjadikan pernikahan tersebut agar segera dijalani. Ingin menghidari dari dosa zina misalnya, ya Menjaga Diri. Atau ingin memiliki ‘Teman Hidup’ agar memiliki motivasi memperbaiki diri Bersama.

Atau adakalanya keinginan untuk menikah muda muncul karena ingin segera mendapatkan “Kebahagian Instan”, katanya. Terlebih di era sosial media saat ini, pernikahan tampak begitu indah, bahagia, dan harmonis : Pasangan yang sedang  berlibur, memiliki rumah mungil tapi modern, anak- anak yang lucu. Hal seperti ini yang membuat sebagian orang berpikir bahwa menikah akan membuat hidup menjadi lebih tenang dan Bahagia. Padahal tidak semua yang terlihat bahagia benar-benar tanpa perjuangan.

Dan tidak jarang, hal ini menumbuhkan pandangan bagi sebagian kalangan pemuda yang menjadikan menikah muda jadi sebuah alasan ‘Pelarian’ dari sekelumit tantangan atau ujian hidup yang belum mampu dihadapi.

Ibaratnya muncul pemikiran seperti :

“Capek sama dunia, nikah aja deh”

“Capek Kerja, nikah aja deh”

Menikah bukan tempat untuk beristirahat atau menghilang dari ujian. Melainkan pintu menuju ruang baru untuk tumbuh Bersama, menghadapi masalah yang mungkin berbeda bentuk. Sehingga ujian atau tantangan hidup yang kita alami saat ini, harus kita hadapi, kita Jalani, dan selesaikan. Karna tentu hal ini menjadikan kita lebih dewasa agar lebih siap menjalankan atau menghadapi ujian-ujian baru yang akan datang setelahnya. Ujian Pernikahan.

Jadi, Pernikahan Adalah Ibadah yang perlu dipersiapkan. Dari Niat, Kesiapaan Mental, Spiritual, Finansial, dan banyak hal.

Menikah itu bukan pelarian dari Lelah, melainkan sebuah perjalanan menuju Ridha Allah.

Maka, persiapkan dirimu.

 

Sabtu, 09 Juli 2022

BERHAJI DI LANGIT SEBELUM BERHAJI DI BUMI

Di ruang tunggu Bandara Internasional Jeddah, Haji Sa’id duduk menunggu. Di sampingnya ada seorang jama’ah haji lainnya. Dari sinilah obrolan mereka bermula.

“Aku bekerja sebagai kontraktor dan Allah telah memberikan aku kenikmatan yaitu dengan memberiku kesempatan berhaji ini. Ini adalah hajiku yang ke sepuluh.”

Mendengar basa-basi teman duduknya itu, Haji Sa’id kemudian menimpali:
“Semoga haji diterima dan dosa-dosa pun terampuni.”

Lelaki itu kemudian bertanya kepada Haji Sa’id:
“Dan engkau sendiri, apakah pernah haji sebelumnya?”

Sa’id menjawab:
“Demi Allah, akhi, hajiku ini memiliki kisah tersendiri dan aku tidak ingin membuatmu berlelah-lelah mendengar kisah tsb.”

Lelaki itu tertawa, lalu berkata:
“Demi Allah, ceritakanlah akhi. Seperti yang engkau lihat, kita sedang menunggu.”

Sa’id tersenyum dan memulai kisah singkatnya.

“Iya benar, menunggu. Dan dari menunggulah kisahku bermula. Aku telah lama menunggu bertahun-tahun. Setelah bekerja selama 30 tahun di sebuah rumah sakit, barulah aku bisa mengumpulkan dana haji.

Di hari yang sama saat aku akan mengambil uang di rekeningku di rumah sakit, seorang ummahat -yang anaknya kutangani karena lumpuh- tiba-tiba terjatuh di hadapanku. Mukanya terlihat begitu sedih dan berkata kepadaku:
“Kutitipkan engkau kepada Allah wahai akhi Sa’id. Ini adalah ziarah terakhir kami di rumah sakit ini.”

Aku merasa aneh dengan ucapannya dan sepertinya ia tidak ridha dengan cara dan metodeku dalam menangani anaknya dan ia sepertinya berpikir untuk memindahkan anaknya ke rumah sakit lain.

Dia kembali berkata kepadaku:
“Tidak akhi Sa’id. Allah sebagai saksi bahwa engkau lebih perhatian terhadap anakku dibanding seorang ayah. Pengobatanmu telah banyak membantunya padahal kami sebelumnya telah pupus harapan.”

Lelaki yang mendengar kisah Sa’id ini berkata:
“Aneh ya. Jika ibu itu memang ridha dengan pelayananmu dan anaknya pun semakin membaik, lantas kenapa begitu saja ia ingin keluar dari rumah sakit padahal masa pengobatan belum usai?.”

Sa’id menjawab:
“Inilah yang aku pikirkan. Aku lantas menuju salah satu unit tertentu di rumah sakit dan bertanya. Nampaklah bahwa ayah si anak kehilangan pekerjaan dan tidak mampu membayar biaya pengobatan yang telah menunggak.

Aku lantas menemui direktur rumah sakit dan memintanya agar pihak rumah sakit tetap melanjutkan proses terapi untuk anaknya namun direktur menolak dengan keras sambil berkata:
“Ini adalah rumah sakit dan bukan yayasan sosial.”

Aku keluar dari ruangan direktur dalam keadaan sedih sekali. Kumasukkan tanganku ke kantong yang di dalamnya terdapat dana haji.

Kuangkat tanganku dan kepalaku menengadah ke langit sambil berujar kepada Rabbku:
“Rabbanaa, Engkau maha mengetahui keadaanku dan Engkau pun megetahui bahwa tidak ada yang lebih dicintai jiwaku selain berkunjung menjadi tamu agung-Mu di rumah-Mu dan menziarahi masjid nabi-Mu. Itu semua telah kupendam bertahun-tahun namun seorang ibu miskin itu dan anaknya membuat hatiku bersedih maka janganlah engkau Haramkan aku untuk meraih segala keutamaan-Mu..”

Aku lalu pergi ke bagian kasir dan mengeluarkan semua yang ada di kantongku guna membayar semua biaya pengobatan selama 6 bulan. Aku segera menghubungi sang ibu dan mengabarkannya bahwa pihak rumah sakit memberikan pertimbangan dan keringanan sehingga pengobatan bisa dilanjutkan tanpa berbayar.

Lelaki yang mendengar Sa’id berkisah merasa terharu dan air matanya berlinang tak ia sadari lalu berkata kepada Sa’id:
“Semoga Allah memberkahimu dan orang-orang sepertimu. Oya, jika uangmu terpakai untuk itu, lantas bagaimana engkau bisa berhaji?”

Sa’id menjawab:
“Hari itu aku kembali ke rumah dalam keadaan amat sedih sebab hilangnya kesempatan emas untuk berhaji namun hatiku dipenuhi dengan kebahagiaan sebab telah membantu ibu dan anaknya itu keluar dari kehimpitan.

Malam itu aku tertidur dalam keadaan air mata terkuras. Dalam mimpi, aku melihat diriku sendiri thawaf mengelilingi Ka’bah dan dan orang-orang memandangku dan mengajakku bersalaman sambil berkata: “Hajj mabrur wahai Haji Sa’id. Engkau telah menunaikan haji di langit sebelum berhaji di bumi. Doakan lah kami wahai Haji Sa’id.”

Aku terbangun dari tidur dan aku merasakan kebahagiaan tiada tara yang luar biasa. Aku lalu memuji Allah dan ridha dengan segala ketentuan-Nya.

Tiba-tiba handphoneku berbunyi tertnyata ada pangiilan dari direktur rumah
sakit. Beliau berkata:
“Bantulah saya. Pemilik rumah sakit akan berangkat haji tahun ini dan ia tidak bisa berangkat tanpa ditemani perawat/dokter pribadinya. Sayangnya istri dokter pribadinya sedang hamil dan ia sendiri tidak bisa meninggalkan istrinya.”

Aku bersujud syukur kepada Allah. Dengan kesempatan inilah aku bisa bisa berangkat haji sebagaimana engkau lihat.

Allah telah memberiku kesempatan berhaji tanpa harus membayar apapun. Saat berhaji, aku kisahkan kisahku kepada pemilik rumah sakit tentang keprihatinan ibu dan anaknya yang kutangani di rumah sakit lalu beliau memerintahkan agar anak tsb tetap mendapat pengobatan dengan biaya dari beliau. Beliau juga berpesan agar di rumah sakit ada pengumpulan dana untuk biaya pengobatan orang miskin.

Beliau juga memberikan lapangan kerja kepada suami ibu tsb di tempat lain dan juga mengembalikan semua uang yang kugunakan untuk membiayai pengobatan anak dari ibu tadi.

Adakah engkau melihat keutamaan yang lebih agung dan luas dari keutaaman Rabb kita?"

Orang yang mendengar kisah haji Sa’id berkata:
“Masyallah. Pahala hajimu berkali lipat dari hajiku. Aku sekarang memahami bahwa aku berhaji menuju baitullah sementara engkau, Allah lah yang memanggilmu menuju rumah-Nya.”
___
Rabbanaa, mudahkan kaum muslimin melaksanakan ibadah di masjidil Haram, masjid Nabawi dan masjid al-Aqsha.

Rabbanaa, kalau tahun ini kesempatan berhaji bagi kaum muslimin masih ditutup maka bukalah pintu ini selebar²nya di tahun² berikutnya insya Allah.

Aamiin yaa Robbal'aalamiin 🤲
____
Sumber: Akun Marina Ma’dan
Alih bahasa: Yani Fahriansyah

#inspiratif
#nasehatbuatdirisendiri

Cukup Menjadi Saya

Di tengah arus kehidupan yang begitu cepat, kita sering tanpa sadar terjebak dalam kebiasaan membandingkan diri. Media sosial, lingkungan se...