Jumat, 07 November 2025

Menikah itu Ibadah, bukan Obat dari Semua Lelah

 

Saat ini pernikahan di usia muda menjadi Salah satu Impian yang sedang tren di kalangan pemuda. Namun tidak sedikit pula sebuah pernikahan tersebut kandas diusia yang masih muda juga.

Banyak alasan yang menjadikan pernikahan tersebut agar segera dijalani. Ingin menghidari dari dosa zina misalnya, ya Menjaga Diri. Atau ingin memiliki ‘Teman Hidup’ agar memiliki motivasi memperbaiki diri Bersama.

Atau adakalanya keinginan untuk menikah muda muncul karena ingin segera mendapatkan “Kebahagian Instan”, katanya. Terlebih di era sosial media saat ini, pernikahan tampak begitu indah, bahagia, dan harmonis : Pasangan yang sedang  berlibur, memiliki rumah mungil tapi modern, anak- anak yang lucu. Hal seperti ini yang membuat sebagian orang berpikir bahwa menikah akan membuat hidup menjadi lebih tenang dan Bahagia. Padahal tidak semua yang terlihat bahagia benar-benar tanpa perjuangan.

Dan tidak jarang, hal ini menumbuhkan pandangan bagi sebagian kalangan pemuda yang menjadikan menikah muda jadi sebuah alasan ‘Pelarian’ dari sekelumit tantangan atau ujian hidup yang belum mampu dihadapi.

Ibaratnya muncul pemikiran seperti :

“Capek sama dunia, nikah aja deh”

“Capek Kerja, nikah aja deh”

Menikah bukan tempat untuk beristirahat atau menghilang dari ujian. Melainkan pintu menuju ruang baru untuk tumbuh Bersama, menghadapi masalah yang mungkin berbeda bentuk. Sehingga ujian atau tantangan hidup yang kita alami saat ini, harus kita hadapi, kita Jalani, dan selesaikan. Karna tentu hal ini menjadikan kita lebih dewasa agar lebih siap menjalankan atau menghadapi ujian-ujian baru yang akan datang setelahnya. Ujian Pernikahan.

Jadi, Pernikahan Adalah Ibadah yang perlu dipersiapkan. Dari Niat, Kesiapaan Mental, Spiritual, Finansial, dan banyak hal.

Menikah itu bukan pelarian dari Lelah, melainkan sebuah perjalanan menuju Ridha Allah.

Maka, persiapkan dirimu.

 

Cukup Menjadi Saya

Di tengah arus kehidupan yang begitu cepat, kita sering tanpa sadar terjebak dalam kebiasaan membandingkan diri. Media sosial, lingkungan se...