Kamis, 17 Juni 2021

MENILIK SURAT CINTA KARTINI UNTUK KELUARGA INDONESIA

 

 -Kurnia Widhiatuti-

Ia dilahirkan pada tanggal 21 April 1879 dari keluarga bangsawan Jawa. Tumbuh ditengah keluarga yang mementingkan pendidikan modern yang menjadi kunci kemajuan seseorang.

Kartini tumbuh menjadi perempuan tangguh, mandiri dan peduli pada pendidikan perempuan Jawa disekitarnya, agar merasakan pula perkembangan ilmu pengetahuan yang dipelajari nya.

Banyak karya telah dibuat Kartini untuk masyarakat disekitarnya juga kelak untuk bangsa Indonesia. Sejumlah ide pemikiran nya tertuang dalam tulisan di media massa, buku dan lembaran-lembaran surat pada para sahabatnya.

Beberapa pesan penting tersirat dalam tulisan Kartini terkait tentang peran perempuan sebagai Istri, seorang ibu dan menjalani peran publiknya.

Setelah pernikahan nya dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Djoyodiningrat, Kartini merasakan cakrawala baru pemikirannya yang semakin berkembang setelah menikah.

"Di rumah orangtua saya dulu, saya sudah tahu banyak, tetapi disini dimana suami saya bersama saya  memikirkan segala sesuatu, dimana saya turut menghayati segala kehidupannya, turut menghayati pekerjaannya, usahanya, maka saya jauh lebih banyak lagi menjadi tahu, tentang hal-hal yang mula-mula tidak saya ketahui, bahkan tidak saya duga bahwa itu ada"

(Surat kepada Ny. R.M Abendanon-Madri 10 Agustus 1904)

Menilik dari surat tersebut, kita menangkap sebuah pesan sarat untuk perempuan Indonesia.

1. Pernikahan dapat mengantarkan seorang perempuan memiliki pengetahuan yang lebih luas sebagai seorang istri.

2. Memposisikan perempuan sebagai istri yang menjadi mitra bagi pasangannya.

3. Memperluas wawasan para istri untuk mempelajari penataan keluarga yang jangkauannya lebih luas, manajemen usaha, keuangan keluarga, dsb

4. Bersinergi mengisi segala sesuatu yang perlu terus dipelajari, belajar, belajar dan belajar terhadap hal-hal baru adalah hal yang menyenangkan bagi seorang perempuan.

Dalam tulisan Kartini berikut ini, ia juga mengungkapkan tentang sosok seorang ibu dalam pandangannya.

"Seseorang yang mengorbankan dirinya untuk orang lain, dengan segala rasa cinta yang ada dalam hati nya, dengan segala bakti yang dapat diamalkan nya, itulah perempuan yang patut di sebut sebagai IBU dalam arti sebenarnya"

Baginya peran perempuan menjadi seorang ibu, patut dilewati dengan segala pengorbanan yang besar sekalipun itu untuk orang lain, tak melulu tentang dirinya.

Seorang ibu adalah pemilik cinta sejati dan segala bakti ada padanya. Dicurahkan untuk keluarga dan anak-anak nya dalam bentuk amal nyata. Sehingga patutlah seorang ibu mendapat bakti dari anak-anak nya.

Kartini pun pernah menulis tentang kepedulian nya pada masyarakat miskin disekitar nya. Ia menelaah tentang akar masalah kemiskinan yang di alami bangsanya.

Hingga ia sampai pada satu kesimpulan.

"Akar sesungguhnya kemiskinan orang Jawa terletak pada masalah pajak dari kebijakan yang dibuat pemerintah kolonial sendiri."

Gagasannya inilah yang kelak menjadi landasan kritik kaum pergerakan anti kolonial terhadap kebijakan pemerintah Hindia Belanda saat itu.

Pemikiran Kartini terkait pandangannya tentang kebijakan publik telah mengantarkan perannya sebagai perempuan yang lengkap. Memahami posisinya sebagai seorang istri, mengetahui betapa berharga nya menjadi seorang ibu dan pentingnya keterlibatan perempuan menyuarakan hati nurani rakyat dan tahu akar masalah yang dibutuhkan bagi masyarakat disekitarnya juga tentang kepentingan bangsanya.

Meski tak panjang usianya. Ia meninggal di usia 25 tahun saat melahirkan putranya pada tanggal 17 September 1904.

Tapi pemikiran nya terus panjang sampai saat ini, hingga ia pantas diposisikan sebagai pahlawan perempuan paling inspiratif dalam sejarah bangsa Indonesia.

"Selamat Hari Kartini untuk Perempuan Masa Kini"

"Senyum Keluarga - Senyum Indonesia"

1 komentar:

Cukup Menjadi Saya

Di tengah arus kehidupan yang begitu cepat, kita sering tanpa sadar terjebak dalam kebiasaan membandingkan diri. Media sosial, lingkungan se...