Nurwidiana, SKM, MPH (Ketua Lembaga Kajian Perempuan, Anak dan Keluarga)
Berbilang kasus dan permasalahan sosial terjadi lingkungan kita. Keterlantaran anak yang berlanjut pada makin bertambahnya jumlah anak jalanan, Kasus pergaulan dan seks bebas hingga mulai tak jarang ditemukan bayi baru lahir di biarkan terlantar oleh sang bunda. Anak mulai terbiasa melakukan cacian hingga tawuran. bahkan tak aneh dengan istilah yang baru bisa mereka fahami setelah dewasa.
Bully semakin marak, bahkan sering menjadi pemicu tindakan penyiksaan yang menjurus pada pembunuhan dikalangan mereka, yang pelakunyabadalah anak beranjak dewasa yang sering disebut oleh lingkungan sebagai remaja galau karena tak kunjung menemukan identitas dirinya.
Pelecehan, pemerkosaan hingga penyimpangan seksual yang di pecut nafsunya oleh tontonan porografi yang bebas masuk disetiap kamar-kamar bernama rumah tangga, tak lagi mengenal batas umur, dari anak hingga dewasa tua ada. Berita terkait hal ini dipertontankan di semua lini dan jenis media, bahkan dibahas sangan gurih dan renyah hingga tingkat international.
Bayangkan di tahun 2016 setiap HARI ada sekitar 25.000 anak-anak mengakses pornografi sebagaimana diungkapkan oleh Yohana S kemenPPPA. Dan diperkirakan secara keseluruhan berdasarkan data Kemeninfo, 43.500.000 anak dan rrmaja mrngakses situs pornografi.
Apa kira efek yang ditimbulkan jika ini berlaku berterusan. Anak-anak sebagai sumber kekuatan negara dilemahkan sejak awal. Bukan hanya dilemahkan namun di diarahkan menjadi perusak. Bagaimana tidak struktur otaknya berubah, bagaian otak yang bisa memilih dan memilah perilaku baik dan buruk telah dirusak. jadilah mereka akan melakikan apa yang mereka inginkan.
Ya Allah bermula darimakah ia. Apakah cukup penyelesaiannya dengan hanya memenjarakan atau menikdaklanjuti pelaku kekerasan, maupun pelaku kriminal diatas dengan jalur hukum saja? Ini tak salah Namun Mari lihatlah dari hulu sebab atas semua masalah diatas. Kita tak menginginkan akhirnya memiliki kebiasaan layaknya pemadam kebakaran saat menyelesaikan masalah. Kala api sudah membesar baru turun untuk disirampadamkan. selesai. Tapi kalo titik kebakaran itu banyak dan selesai kebakaran, dia muncul lagi...ini akan menghabis banyak biaya dan memakan korban banyak.
Mari lebih jernih melihat apa disebalik permasalah yang muncul : Ada masalah ketimpangan dan kesejangan ekonomi yang semakin jauh berlaku disini, menyebabkan para aktor keluarga yaitu ayah bunda harus lebih banyak menyisihkan waktu untuk mencari nafkah penunjang kehidupan mereka. Bukan...kadang mereka seperti itu bukan untuk mengejar kenyaman hidup. Tapi mereka berjibaku untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari saja.
Walau jujur masih sangat bingung, sekalipun banyak keluarga yang sulit untuk memenuhi keperluan pokoknya, tapi porsi pengeluaran terbesar rumah tangga adalah konsumsi rokok. Silakan kalikan pengeluaran rokok per hari dan perbulan jika di negri kita terdapat 43juta perokok aktif. Dan jumlah tersebut juga menjadi tanda bahwa semakin banyak orang stress di negeri ini. Karena ada sebagian psikolog mengatakan ciri orang stres dia akan merokok.
Apa yang hilang saat kondisi itu yang marak muncul? Anak kehilangan waktu kebersamaan dengan ayah bundanya. Anak tak cukup pendampingan untuk belajar bagaimana beretika, berakhlak dan bertumbuh serta berkembang secara baik. Mungkin anak-anak masih bisa mengecap pengajaran di sekolah. tapi sekolah tak bertanggungjawab untuk mendidik akhlaq, nilai dan etika. Itu tanggungjawab orang tua. Pendidikan terkait ini tak bisa diajarkan, dia hanya efektif jika di didik dengan pendampingan dan ditunjukan dengan keteladanan melalui model nyata di depan matanya. Dan yang paling tepat untuk menjalani proses itu adalah kedua orang tuanya. Ayah dan Ibunya.
Akhlak, value, belief adalah sesuatu yang harus ditularkan dengan contoh, pembiasaan dan pengawasan dalam bingkai tanggungjawab dan kasih sayang. Dan ia perlu masa dengan kurikulum.panjang dan jadwal 24 jam.
Hanya di keluarga diharapkan anak belajar tentang menjadi dirinya sendiri. Menjadi laki-laki yang tahu hak dan kewajiban serta tanggung jawabnya. Bagaimana dia harus bersikap dan berprilaku. Begitupun halnya...di keluarga pula anak wanita dididik sesuai fitrahnya menjadi wanita yang seharusnya. Faham hak, tanggungjawab dan kewajibannya kelak. Tak hanya sebatas itu. Anak laki mulai diajarkan bagaimana menjadi suami dan ayah yang baik. Begitupun anak wanita diajarkan bagaimana menjadi istri dan ibu yang kelak menjadi ibu yang dapat menjadi magnet cinta diantara ahli keluarganya. Semua pendidikan itu sejatinya harus ada di keluarga. Agar kelak tak muncul para istri atau suami yang lalai dari tanggungjawab bahkan menjadi pencetus masalah dalam keluarga dan masyarakat.
Fenomena yang terjadi saat ini, Anak mengalami percepatan dari sisi kematangan biologis yang ditandai baligh lebih cepat, organ-organ reproduksi pun siap menjalankan aktivitas biologisnya, ada syahwat yang jika tidak terkontrol, ia akan berkembang secara liar dan tidak sehat. Sementara disisi lain realitanya banyak anak-anak yang mengalami kelambatan dalam hal aqil padahal ia adalah skrining dan pusat pertimbangan pengambilan keputusan. Disini kedewasaan serta sifat tanggungjawab seseorang dinilai. Disini konsep agama, nilai benar salah serta baik tidak baik dibentuk yang akan mengontrol syahwat yang muncul dari kematangan biologis. Bayangkan jika balighnya memuncul syahwat yang deras sementara aqilnya belum berfungsi secara optimal. Maka muncul anak2 yang terjerat dalam seks bebas apalagi pemicu berupa tampilan pornoaksi dan pornografi yang leluasa.
Sayangnya...inilah fenomena yang muncul, remaja yang tidak dewasa dan dewasa yang juga belum dewasa. Sebab pendewasaa dari sisi aqil tersebut banyak yang luput pendidikannya dari rumah-rumah maka permasalahan sosial yang sejatinya terkait dengan akhlaq etika dan value serta agama muncul bak air bah. Arusnya mulai mengalir dari semua pintu masalah. Astagfirullah
Maka inilah juga salah satu titik hulu penting yang harus mendapat perhatian bersama. Begitu dasyatnya peran keluarga sebagai upaya preventif untuk mencegah berbagai permasalahan sosial. Namun keluarga tak dapat menjalankan semua peran pentingnya tersebut jika tak mendapat dukungan yang cukup dari pemerintah dan negara. Perlu ada political will dan kekuatan serta atensi yang serius dari pengelola dan penentu kebijakan dan Anggaran.
Keluarga bukan lagi masalah pribadi jika efeknya menjadi masalah masyarakat untuk selanjutnya berkembang menjadi masalah negara. Tak ada yang menafikan saat keluarga baik dan kokoh maka ia akan menyumbang kontribusi positif buat negara dan masyarakatnya. Saat keluarga unggul dari sisi spritual, fisik, ekonomi, psikologis dan sosial maka ia akan memberikan bukan hanya ketenangan pada lingkungan dan masyarakat, namun juga kebahagiaan dan kekuatan yang tak ternilai.
Salam Keluarga Bahagia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar