DEPOK NEGERI PERLINTASAN SEJARAH PAHLAWAN INDONESIA.
-Kurnia Widhiatuti-
Banten dan Batavia di abad ke 16 adalah pusat perniagaan paling strategis di Pulau Jawa. Belanda dengan VOC nya senantiasa mengupayakan menguasai Bandar Perniagaan Nusantara ini.
Upaya VOC untuk memecah belah dengan politik Devide Et Impera dilakukan untuk membuat perpecahan. Cara yang mereka lakukan adalah menguasai pusat perniagaan. Sehingga mereka bisa menguasai Nusantara.
Upaya pecah belah itu dimulai dengan penguasaan terhadap Batavia. Sehingga akan memisahkan 3 Kesoeltanan besar yang memimpin pada masa itu.
Batavia yang secara geografis terletak agak jauh dari sentra kekuasaan; Kesoeltanan Demak, Kesoeltanan Cirebon dan Kesoeltanan Banten.
Upaya pembebasan Batavia dari VOC dilakukan oleh Sultan Agoeng dari Kesoeltanan Mataram. Dan juga bantuan dari Kesoeltanan Banten Sultan Ageng Tirtayasa.
Di Batavia ada Sultan Agoeng, di Banten ada Sultan Ageng Tirtayasa. Keduanya adalah pahlawan Nasional yang tercatat dalam sejarah pembebasan dari penjajahan Belanda.
Demikian juga upaya penyelamatan Batavia dari cengkeraman VOC dilakukan oleh Kesoeltanan Cirebon dan Kesoeltanan Demak.
Jalur perlintasan yang dilewati oleh tentara Kesoeltanan Banten, Cirebon maupun Demak ternyata melalui sebuah kota kecil yang bernama DEPOK.
Masyarakat menyebut wilayah Depok dengan DEPROK (duduk santai di atas tanah).
Penamaan tersebut tidak terlepas dari perjalanan Prabu Siliwangi dari Kesoeltanan Cirebon untuk menuju Batavia, yang singgah di kawasan Beji. Keindahan dan keasrian Depok pada saat itu membuat Prabu Siliwangi men-deprok di kawasan yang tak jauh dari Sungai Ciliwung.
Pada masa Kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa dan Pangeran Purba seringkali melakukan perjalanan ke Cirebon dan menggunakan jalur yang melintasi kawasan Depok dan sempat pula menetap di Beji.
Dapat dikatakan Depok adalah sebuah kawasan rest area dan tempat peristirahat sementara sebelum melanjutkan perjalanan ke arah Kesoeltanan Cirebon dan ke arah Kesoeltanan Banten.
Demikian juga untuk sampai ke Batavia, akan melintasi wilayah Depok.
Ternyata salah satu pengikut Pangeran Purba yaitu Embah Raden Wujud memutuskan untuk tidak ikut melanjutkan perjalanan ke Cirebon dan menetap dengan mendirikan PADEPOKAN (tempat pendidikan dan pelatihan) untuk menyebarkan agama Islam.
Padepokan yang dibangun Embah Raden Wujud berkembang menjadi sebuah perkampungan, sehingga Kesultanan Banten pada saat itu menyebut wilayah tersebut sebagai DEPOK atau PADEPOKAN.
Padepokan sendiri bisa diartikan sebagai tempat tinggal atau kampung halaman. Kata Padepokan pun bisa diartikan sebagai tempat pendidikan, seperti pesantren.
Dengan adanya padepokan membuat wilayah Depok menjadi sebuah kampung religius tempat masyarakat mengkaji ajaran Islam. Tidak lah heran jika saat ini di Depok banyak terdapat pesantren, dan masyarakatnya sangat agamis. Geliat majelis taklim dan keilmuan ada dimana-mana.
Ada Belanda Depok.
Dalam laporan ekspedisinya, Abraham van Riebeek (1730) menjelaskan bahwa kata Depok bukan berasal dari bahasa asing. Tetapi lebih mungkin bahasa Sunda atau Jawa. Dalam bahasa Sunda Depok berarti duduk.
Sejarah nama Depok tidak terlepas dari sejarah penjajahan bangsa Belanda terhadap Indonesia dengan VOC nya.
Berdasarkan dokumen Bataviaasch Nieuwsblad (1929), seorang pejabat VOC yang bernama Cornelis Chastelein telah membeli lahan di Mampang dan Depok Lama yang dipergunakan untuk perkebunan pada 1696.
Selain mengelola perkebunan, Cornelis juga menyebarluaskan agama Kristen kepada para pekerjanya, lewat sebuah Padepokan Kristiani. Sehingga kita mengenal ada kawasan "Belanda Depok" di wilayah Pancoran Mas. Dan beberapa gereja dibangun dengan sangat berdekatan di wilayah tersebut.
Saat ini kehidupan toleransi beragama berlangsung dengan damai. Masyarakat hidup saling berdampingan untuk memberikan karya terbaiknya bagi kota Depok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar