Oleh: Ummi Siti Muntamah Oded, S.Ap.
(Ketua BPKK DPW PKS Jawa Barat)

Butuh rekonstruksi cara pandang di mana keluarga masih banyak dianggap sebagai hal biasa yang tak memiliki keterhubungan dengan maju dan mundurnya negara. Padahal, sebagai tempat bertolak dan kembali pulang, keluarga menjadi penyedia bekal yang sangatb fundamental guna menempuh kehidupan bermasyarakat yang lebih luas. Pun ditegaskan oleh Ki Hajar Dewantoro bahwa keluarga merupakan salah satu dari tri pusat pendidikan, yang meliputi: keluarga, sekolah, dan organisasi pemuda. Pendidikan keluarga adalah usaha sadar yang dilakukan orang tua, karena mereka pada umumnya merasa terpanggil (secara naluriah) untuk membimbing, mengarahkan, membekali dan mengembangkan pengetahuan nilai dan keterampilan bagi putra putri mereka sehingga mampu menghadapi tantangan hidup di masa yang akan datang. Artinya, pendidikan keluarga merupakan bagian dari sistem pendidikan secara keseluruhan.

Menjalani peran dalam keluarga juga tak lepas dari landasan yang sangat berhakikat, di mana salah satunya ter-capture dalam Qur’an Surat At-Tahrim: 6. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Selanjutnya, dalam rangka memaknai Hari Keluarga 2021, penting bagi kita merefleksi visi keluarga. Atau paling tidak, kita pahami terlebih dahulu tentang keberadaan keluarga. Artinya, bagaimana keberadaan keluarga dapat terdefinisi oleh masing-masing individu, sehingga dapat dipersepsikan secara utuh dan menyeluruh.

1. Pemilik Engagement
Ikatan atau keterlibatan atau keterhubungan hati, adalah modalitas berharga yang menyokong keajegan sebuah keluarga. Engagement dari orang tua kepada anak dan sebaliknya, engagement istri kepada suami dan sebaliknya, engagement seluruh anggota kepada tetangga dan saudara, adalah perpanjangan tangan kasih sayang yang menyokong ketentraman hidup bermasyarakat. Pun bagi anggota keluarga secara personal, engagement yang mereka dapat, menjadi fondasi menjalani kehidupan bermartabat dan berkarakter di tengah masyarakat. Termasuk di dalamnya, peran pengasuhan. Peran fundamental yang perlu ditempuh dengan pengetahuan. Hal tersebut sebagaimana ditegaskan dalam sebuah jurnal bernama Hoghughi Journal Of Cross Cultural Psychology (2004),  bahwa pengasuhan mencakup beragam aktifitas yang bertujuan agar anak dapat berkembang secara optimal dan dapat bertahan hidup dengan baik.

2. Penyedia Stok Energi Positif
Kasih sayang orang tua terhadap anak-anak di rumah tanpa sadar menjadi sebuah energi yang menguatkan. Ada motivasi yang sangat berharga, baik melalui doa maupun melalui gumam-gumam harapan saat terbukanya sebuah dialog. Stok energi ini yang merupakan “mesin keyakinan” sehingga generasi tetap mengampu harapan untuk cita-cita berlian. Maka di sinilah, betapa penting arti keluarga, karena optimistisnya negara dapat tersokong oleh optimistisnya keluarga.

3. Wahana Terlahirnya Kebijakan
Konteks berbangsa dan bernegara telah terminiatur dalam kehidupan keluarga. Rangkaian diskusi, baik yang sifatnya dialog langsung maupun dialog tak langsung, tertuang dan terjalani secara alamiah dan naluriah dalam keluarga. Hal ini menjadi sangat fundamental dalam membekali generasi terkait dengan adab musyawarah, pengambilan keputusan dan seni melakukan keberpihakan. Maka pendidikan politik pun nyata, bertolak dari kehidupan keluarga.

4. Pemberi Bekal Ketangguhan
Keberdayaan seorang manusia adalah bekaljalan panjang kehidupan. Artinya, seberapa sanggup dirinya mengarungi realitas dengan segala dinamika yang ada. Hal ini sebagaimana dipopulerkan oleh Paul G. Stoltz dalam bukunya Adversity Quotient bahwa setiapa manusia teruji ketangguhannya berdasarkan 3 level yang terdiri dari level climber (pendaki sejati yang sanggup melawan hambatan hingga impian tercapai), level camper (memilih berhenti dari medan tempuh) dan level quitter (memilih untuk mengambil peran alias menolak beban dan tantangan). Istimewanya, dalam hal adversity quotient (ketangguhan), keluarga terkonkretisasi sebagai penyokong energi ketangguhan. Susah senang menjalani takdir dan sepak terjang meraih impian, tervisualisasi dalam keluarga.

5. Universitas Kehidupan
Jika sebuah lembaga sekolastik menawarkan pendidikan formal, pun dengan lembaga nonformal menyajikan menu-menu pengembangan keterampilan hidup, maka keluarga adalah paket lengkap pendidikan. Karena secara hakikat, pasangan suami istri dalam sebuah keluarga adalah guru. Tepatnya, guru kehidupan. Maka ragam pembelajaran, baik dari sisi kognitif, afektif dan psikomotor terkontekstualisasi dalam sebuah kolam istimewa bernama keluarga.

Dari definsi keberadaan yang tertuang dalam 5 poin tersebut, insyaAllah menjadi bekal konseptual dan kontekstual bagi kita untuk merumuskan visi keuarga kita masing-masing. Apa visi keluarga dalam kurun satu tahun ini, apa visi kita dalam rentang lima tahun ke depan? Apa visi keluarga kita dalam menyikapi wabah COVID-19 hingga dapat tersolusikan dengan bijak? Apa visi keluarga kita menuju jalan panjang keabadian?

Mari membangun dan atau merefleksi visi keluarga sebagai jalan terang menuju cinta yang paripurna. Cinta yang menumbuhkan. Cinta yang menguatkan. Cinta yang menopang adil sejahteranya negara kita, Indonesia.