“ _My Lady,_ Kudekap tanganmu dengan cinta”
Oleh Izza Mutia, Staf Biro Kajian Perempuan, Anak & Keluarga DPD PKS Kota Depok.
Serial Taujih Mengokohkan Keharmonisan Keluarga di Masa Pandemi
----------
Varian Delta. Wow.. keren amat namanya. Sesuatu yg penting apakah itu?
Jangan salah. Nama yang keren ini dilekatkan kepada virus Corona, agar kita mudah mengigatnya, dan berhati-hati terhadap kekuatannya. Sangat kecil tapi menakutkan. _Incredible_ .
Pemerintah kita saja saat ini terus menerapkan _physical distancing_ dan program 6M secara ketat, merencanakan _lockdown_ atau karantina wilayah kota seperti di Yogyakarta, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala besar) seperti di Jakarta, dan PPKM (pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) baik makro ataupun mikro, seperti di Jawa Barat. Bahkan menurut Bapak Ridwan Kamil, gubernur kita, ada lockdown di tingkat desa dan PPKM di tingkat kota, dalam mensiasati pandemi yang semakin dahsyat.
Mewabahnya varian Delta yang mudah menular, lebih membahayakan, dan lebih beresiko dibanding varian sebelumnya, membuat kita harus meningkatkan Iman, Imun dan Aman dalam hidup bersama Corona dimasa ini. Jangan dihitung lagi berapa orang yang sudah syahid karena virus ini. Kita bisa saksikan dalam minggu ini, ambulance-ambulance sampai antri 1 km untuk bisa menguburkan jenazah yang terkena covid di TPU khusus. Sangat memilukan.
Pokoknya, saat ini bahaya level 3 ya, untuk duduk makan-makan di tempat umum, jalan-jalan ke tempat belanja, atau duduk-duduk di pinggir jalan. Apalagi jika ke rumah sakit yang penuh, krn _handle_ pintu, lantai dan keran airnya saja, bisa menempel virus super dengan ukuran nano tersebut.
Dalam QS Al Baqoroh : 156-157 Allah berfirman : ‘Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu Orang-orang yang ditimpa musibah, mereka berkata : Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepadaNyalah kami kembali (Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun)”.
Sing sabar ya… Tapi Tetap Semangat!
Saat pandemi ini mengharuskan kita berdiam diri di rumah dalam jangka panjang, maka pada sebagian keluarga akan muncul ketidakharmonisan karena kejenuhan yang kerap kali datang. Tekanan-tekanan yg semakin berat terutama dibidang ekonomi, juga terasa cukup mengkhawatirkan. JiIka kondisi mencekam ini dibiarkan, tidak dapat dipungkiri konflik rumah tangga pun bisa terjadi. Ibu dan anak semakin tidak akur karena sistem belajar di rumah yang membebani masing-masing fihak. Ayah dan Ibu yang semakin sering bermain dalam nada-nada tinggi karena beban kehidupan yang semakin berat. Atau kebiasaaan buruk yang timbul karena interaksi yg semakin mesra dengan gadget hingga akhirnya lupa segala. Hiks.
Jangan menyerah. Kita harus siap berperang dengan mental pejuang untuk melawan hegemoni dampak virus asing yg seperti _alien_ penyerang bumi ini. Sabar tapi tidak pasrah dengan keadaan. Jangan malah berpecah belah, atau bahkan bercerai berai menghadapi kondisi ini. Tahukah kita, kasus perceraian di Depok saja, di bulan juni sekarang ada sekitar 500 kasus yang terdaftar di Pengadilan Agama dan pengadilan Negeri Kota Depok? Setahun berarti sekitar 6.000 kasus perceraian, dan itu bisa jadi menimpa tetangga atau teman kita?
_Keep fighting!_
"Keluarga Indonesia dipaksa untuk menguatkan ketahanan keluarganya saat tantangan yang besar muncul yaitu pandemi virus COVID-19 yang semakin berat," kata Guru Besar bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia IPB University, *Prof. DR. Euis Sunarti.*
Ketua Klaster Ketahanan Keluarga API (Asosiasi Profesor Indonesia) dan Ketua Penggiat Keluarga (GIGA) Indonesia ini mengatakan, ada tantangan-tantangan baru yang kini dihadapi oleh keluarga Indonesia, yang menuntut kita untuk bisa menemukan solusi-solusi baru demi keselamatan keluarga dan bangsa.
Lalu bagaimana menjaga agar keluarga tetap harmonis di saat pandemi? Yuk kita simak 8 Tips keharmonisan keluarga dari Prof. Euis ini.
*1. “Kita perlu menguatkan dan melembagakan nilai dan tujuan berkeluarga. Pentingnya membangun dan memelihara keharmonisan keluarga dengan cara yang tepat sesuai kematangan perkembangan setiap anggota keluarga,” ujarnya.*
So, jangan lupa, menikah itu ibadah, menjadi orangtua adalah karunia, dan menjadi anak adalah sumber kebahagiaan dan penyejuk mata untuk ayah bunda. Yang manis ya sis n bro, untuk keluarga kita sendiri..
*2. “Ciptakan suasana keluarga yang nyaman demi terbangunnya koherensi, fleksibilitas dan bonding (kelekatan) yang membawa kepada kesabaran setiap anggota untuk bertahan lama (getting along with others) dalam proses pembelajaran aktivitas keluarga. Buat setiap individu anggota keluarga merasa “diterima dan dipahami” oleh anggota keluarga lainnya. Kembangkan komunikasi asertif dan interaksi yang hangat (warmth interaction).*
Memang bahasa profesor, keren bingit ya. Dalam Bahasa kita, Pokoknya, harus sering bicara kepada keluarga jika ada apa-apa, curhat kepada saudara atau ayah ibu kita sendiri. Lakukan aktifitas keluarga seperti makan bersama, sholat berjamaah, menyimak tadarus Al qur’an, atau olahraga dan nonton bareng di rumah. Banyak film bagus yang sarat ilmu pengetahuan dan pendidikan yang bisa dinikmati bersama di rumah. Jangan lupa untuk masak-masak atau berkebun bersama, dan bermain games bersama. Masa sama gadget bisa, sama adek sendiri kamu tidak bisa. _Please try it!_
*3. Pastikan anggota keluarga secara umum merasa puas dengan kehidupan keluarga. Caranya yakni dengan membiasakan mengekspresikan rasa syukur dan merasa cukup terhadap situasi atau kondisi, memenuhi kebutuhan setiap anggota dan keluarga secara bersatu.*
Jadi kita harus lebih sering mengucapkan alhamdulillah ya. Itu dzikir yang akbar. Jangan banyak keluh kesah. Positif Thingking dan sebarkan kata-kata positif. Itu akan menjadi _healing_ , penyembuh rasa khawatir, kecewa dan sakit di dalam hati.
Merasa cukup dengan setiap rezeki yang diberikan Allah akan memberikan keberkahan kepada rezeki itu sendiri. Saling asah, asih dan asuh, saling berbagi, akan memberi kepuasan hati dalam keluarga. _Love You!_
*4. Bangun lingkungan fisik rumah dan lingkungan yang “ _home sweet home_ ” sehingga setiap anggota keluarga merasa nyaman dan betah tinggal di rumah. Temukan kearifan-kearifan dari setiap anggota keluarga. Misalnya dengan saling mengerti, memahami, memaafkan, juga mencontohkan menahan marah dan menahan berkata yang akan melukai dan disesali, demikian pula mendorong sifat altruistik (tidak egois) dan kesediaan berkorban untuk keluarga.*
So, jangan ada sedikitpun pemikiran negatif terhadap keluarga kita. Membiasakan berkata “ *maaf, tolong ya, please* ”, akan sangat membantu. Berkatalah yang baik, atau diam.
Yuk bekerjasama dalam menciptakan lingkungan rumah yang asri, bersih dan indah, jasmani dan ruhani, sehingga kita pun nyaman di rumah. _Baiti Jannati.._ Rumahku, Surgaku. Wow!
*5. “Cegah konflik kepentingan, antara tujuan keluarga dengan tujuan individu, dan konflik antar anggota keluarga. Caranya adalah dengan mengalokasikan peran dan sumberdaya secara adil, serta menuntut akuntabilitas peran yang disepakati bersama,” imbuhnya.*
Agak rumit ya. Tapi kita jangan seperti itu. Setiap orang punya amanah dan tanggung jawab. Kalau kita tidak melalaikan tugas dan kewajiban kita. Pasti semua akan berjalan baik dan sempurna. Jadi jangan lupa untuk punya jadwal : Pekerjaan baik apa yang harus aku lakukan hari ini? _Good Job!_
*6. Selain itu membangun, memelihara, menguatkan pemahaman dan penerimaan suami istri terhadap pembagian peran, fungsi, dan tugas juga penting, tujuannya untuk terbangunnya hubungan suami istri yang tenang, tentram, penuh kasih sayang (sakinah mawaddah wa rahmah).*
Mendekap tangan suami dengan mesra, dan mencium punggung tangannya, adalah tanda ridho dan cinta istri pada suaminya. Itu bisa dilakukan setiap pagi dan sore, di depan anak-anak. Ah pasti seru ketika suami pun membalas dengan mendekap tangan istri, dan menciumnya dengan sayang. Jangan kalah sama gaya bangsawan Inggris, yang mencium tangan para *_My lady,_* dengan gaya anggunnya. He2, jangan kalah mesra atuh Kang.. . _So sweet.._
Anak-anak pun jangan lupa. Cium tangan ayah bundanya sesering mungkin.
Seperti diriwayatkan Bukhari, Tirmidzi, dan Abu Dawud dari Aisyah RA.
" Dari Aisyah RA berkata, 'Aku tidak melihat seorang pun di antara manusia yang lebih menyerupai Nabi dalam hal berdialog, berbicara, dan cara duduknya selain Fatimah RA'. Aisyah RA berkata, 'Apabila Nabi SAW melihat Fatimah datang, beliau menyambutnya serta berdiri untuknya, lalu menciumnya sambil memegang erat tangan Fatimah itu. Kemudian Nabi menuntun Fatimah sampai mendudukkannya di tempat beliau biasa duduk. Sebaliknya, apabila Nabi SAW yang datang kepadanya, Fatimah berdiri menyambut Nabi serta mencium Rasulullah SAW'."
Maa Shaa Allah.. bisa ya, untuk berlaku seperti itu di rumah kita?
*7. Kembangkan pola komunikasi dan interaksi antara orangtua dan anak yang hangat, menerima dan mencintai anak apa adanya. Latih anak-anak mengelola emosi yang sehat. Orang tua perlu mengarahkan, mendisiplinkan dan menuntut kepatuhan dalam batas-batas yang proporsional.*
Menghargai setiap pribadi, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, adalah bagian dari akhlak yang mulia dan keyakinan kepada Allah Sang Pencipta. Cintai anak-anak dengan segala keistimewaannya, karena setiap manusia itu unik dan berbeda. Mencintai dan mendidik anak dengan baik, akan menjauhkan mereka dari kedurhakaan kepada Allah dan orangtua.
_Ummu, Al madrosatun Uula._ First, Pendidikan ibu sebagai pendidik yang utama dan pertama, adalah penting. Jika ibu smart, sholihah, dan bahagia, maka keluarga keseluruhan akan baik dan bahagia pula.
Ibu, surga di telapak kakimu.. _Don’t worry, be Happy…_
*8. “Dan ciptakan suasana kasih sayang, penerimaan dan kepedulian antar anak. Kita juga bisa mengembangkan kegiatan atau penugasan yang terbangun pola senioritas yang sehat serta bertanggung jawab,” tandasnya.*
_Kullukum roo’in. Wa kullukum ‘an Ro’iyyatih._ Setiap diri kita adalah pemimpin. Dan akan dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang kita pimpin. Melatih anak dengan keteladan, membangun karakter dengan arahan kebaikan, ada di pundak ayah sebagai qowwam keluarga. Ayah yang berwibawa dan penuh cinta, akan menjadi solusi bagi setiap masalah yang timbul dalam keluarga.
Akhirnya, Berat sama di pikul, ringan sama di jinjing. Semua berperan dengan segenap kemampuannya. _Cool._
Depok, 30 Juni 2021.
Sumber referensi :
IPB.ac.id/news/index/2020/05.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar